Social Media

Share this page on:

Trauma Anak-Anak Korban Gempa Palu di Batu, Masih Kaget Lihat Orang Lari

18-10-2018 - 17:14
Anak-anak korban bencana gempa Palu saat bermain di Jl Panderman, Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu, Kamis (18/10/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Anak-anak korban bencana gempa Palu saat bermain di Jl Panderman, Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu, Kamis (18/10/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

MALANGTIMES - Rasa trauma masih dirasakan khususnya oleh anak-anak korban gempa Palu, Sulawesi Tengah, yang mengungsi di Jl Panderman, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu. Suara mobil hingga aktivitas bermain anak-anak sebayanya kadang masih membuat mereka kaget.

“Saat ada tetangga yang anaknya lari-lari gitu, mereka kaget dsn langsung berdiri. Lalu ada suara mobil juga, refleks langsung berdiri,” ungkap Ninik Mulyaningsih, korban bencana Palu, Kamis (18/10/2018).

iklan

Total ada 15 orang korban gempa Palu dan 4 di antaranya adalah anak-anak yang saat ini mengungsi di rumah Puyantanu Jl Panderman Dusun Krajan, Desa Oro-Oro Ombo. Saat wartawan MalangTIMES mengunjungi kediaman tersebut,  Adit Arya Satya, Zio Reihan Akbar, dan Alya Zilziyan Maharani menumpahkan mainan di dalam wadah yang cukup besar.

Ya saat itu mereka bermain bersama dengan anak-anak warga sekitar. Mereka sudah mulai bangkit dari rasa traumanya saat gempa menerjang rumahnya di sekitar Hotel Roa-Roa. Tetapi rasa refleks saat melihat anak-anak berlarian hingga mendengar suara kendaraan bermotor masih dirasakan.

Momen tim Tagana Kota Batu bersama Adit korban bencana Palu di Balai Desa Oro-Oro Ombo, Kamis (18/10/2018).

“Alhamdulillah traumanya sudah mulai hilang. Ya karena di sini kami sudah tidak merasakan gempat seperti di sana, yang setiap hari berkali-kali harus merasakannya,” ujar ibu 35 tahun ini. 

Ninik bersama suaminya, Riyanto, selang beberapa hari mengalami gempa tersebut langsung terpikir mengungsi di tempat sanak saudara. Akhirnya mereka memilih di Kota Batu. Mereka langsung menggunakan kendaraan sepeda motor selama dua hari dua malam dari Palu ke Makassar dan kemudian terbang ke Jawa.

“Dari Palu naik sepeda motor ke Makassar. Tapi di saat perbatasan antara Sulteng dan Sulsel, sepeda motor saya titipkan di sana. Lnjut naik travel ke bandara Makassar,” cerita Riyanto. 

Saat berada di bandara itu Riyanto menggunakan pesawat domestik. Ia pun memilih menggunakan pesawat domestik karena membawa orang lanjut usia dan anak-anak. “Kalau naik pesawat Hercules takutnya anak dan orang tua harus berdesak-desakan dan risiko tinggi,” imbuhnya.

Sejak dua minggu di sana, tentunya mereka harus menyesuaikan dengan hawa dingin Kota Batu. Sebagian dari mereka tekena flu. Selain itu, meskipun sudah mengungs,i mereka pun masih kekurangan dari segi sandang. “Seperti pakaian dalam, diapers. Beberapa hari yang lalu kami mendapatkan bantuan baju dan diapers,” kata bapak 48 tahun ini.

Riyantonpun berharap karena ke depannya bisa mendapatkan lapangan pekerjaan. Sebab, dalam waktu dekat tentunya belum bisa kembali ke Palu.

“Lihat kondisinya di sana, tentu nggak ada lapangan pekerjaan. Dan pastinya bau korban bencana dan debu masih terasa, sehingga harapannya bisa kerja di sini,” imbuhnya. 

Kamis (18/10/2018) siang Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Batu, Dinas Sosial Kota Batu bersama koramil membaur bersama mereka dan memberikan bantuan. 

Ketua Tagana Kota Batu Simon Purwo Ali menjelaskan, ada  pemberian bantuan logistik untuk meringankan kebutuhan mereka. Bantuan yang diberikan seperti pakaian dan kebutuhan anak-anak.

“Bantuan yang kami berikan ini mungkin cukup untuk tiga hari. Ini akan disambung lagi dalam rangka pendampingan. Selain Tagana, Dinsos, juga bersama pemdes,” ujar Simon. (*)


Pewarta : Irsya Richa
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
Sumber : Batu TIMES (Jatim TIMES Network)


Top