Social Media

Share this page on:

Minat Berhubungan Seks Turun, Negara-Negara Maju Mumet Dibuatnya

08-11-2018 - 10:39
Minat berhubungan seks menurun, membuat berbagai negara maju pusing mencari solusinya. (Ist)
Minat berhubungan seks menurun, membuat berbagai negara maju pusing mencari solusinya. (Ist)

MALANGTIMES - Persoalan turunnya hasrat atau minat berhubungan badan (seks) dalam sebuah keluarga ternyata mampu membuat negara-negara maju di dunia dibikin pusing tujuh keliling. 
Berbagai upaya untuk membangkitkan masyarakat agar berhubungan seks dan memiliki anak dari buah cinta ternyata tidak membuat masyarakat di negara maju,  seperti Australia,  Jepang, Swedia, Korea Selatan maupun Singapura, tertarik untuk berhubungan seks. 

Padahal, negara-negara maju tersebut telah memberikan berbagai 'kemewahan' bagi masyarakatnya untuk meningkatkan frekuensi berhubungan seks. Berbagai kebijakan afirmasi ditawarkan kepada masyarakatnya. Dari pemberian cuti 480 hari bagi orang tua yang mempunyai anak, jaminan kesehatan sampai pada pendidikan gratis.

iklan

Bahkan di Swedia,  agar masyarakatnya bisa berhubungan seks, dikeluarkan kebijakan subsidi seks. Dilansir dari The New Yorks Times (23/2/2017), subsidi seks yang diberikan kepada 550 pegawai kota  diharapkan bisa memberikan waktu untuk berhubungan seks dengan pasangannya. 

Kebijakan subsidi seks berupa pemberian 1 jam waktu kerja setiap minggu agar pegawai kota bisa pulang ke rumahnya dan berhubungan seks. 
Tapi berbagai kebijakan tersebut ternyata tidak membuat masyarakat di negara-negara maju tersebut berlomba-lomba memiliki anak. 

Di Jepang,  seperti dilansir dari japantimes.co.jp, bahkan menunjukkan hasrat melakukan hubungan seks di kalangan masyarakat usia produktif semakin menurun dan naik persentasenya. 
Persentase kaum hawa Jepang yang semakin tidak berminat dengan seks mendominasi setiap tahun dibandingkan dengan kaum adam. 
Tahun 2008, kaum hawa Jepang usia 20-24 tahun yang emoh main seks sekitar 25 persen. Tahun 2010 naik menjadi 35 persen. Sedangkan  kaum adamnya dengan usia yang sama sebesar 11,8 persen tahun 2008. Naik keengganannya untuk berhubungan seks tahun 2010 menjadi 21,5 persen. 

Lantas apakah yang membuat negara-negara maju mumet dengan turunnya minat masyarakat untuk berhubungan seks? 
Hal ini berhubungan dengan lonjakan penduduk lansia di negara-negara maju. Eksesnya, tenaga kerja produktif menjadi menurun drastis dan akan menjadi persoalan serius apabila terus terjadi. 

Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks saat anak muda sudah tidak berhasrat terhadap seks. Serta yang telah berkeluarga tidak juga melakukan kewajibannya untuk berhubungan badan. Seperti yang dialami penduduk Jepang yang telah menikah,  tapi 47,2 persen tidak melakukan hubungan seks sama sekali minimal satu bulan, seperti dari data survei perkumpulan keluarga berencana Jepang di tahun 2017.

Studi dari Jean M. Twenge dkk (2015) bahkan menunjukkan, generasi milenal (yang lahir antara tahun 1980-2000) merupakan kelompok yang paling sedikit berhubungan seks dibandingkan dengan generasi X (1960-1980) dan generasi baby boomer (1940-1960). 

Lantas apakah kondisi penurunan hasrat atau minat di negara-negara maju tersebut juga melanda masyarakat Indonesia?
Belum ada data resmi mengenai hal tersebut. Apalagi penelitian mengenai turunnya minat atau frekuensi berhubungan seksual dalam masyarakat Indonesia. Namun, gejala-gejala tersebut mulai terlihat dalam kehidupan masyarakat urban Indonesia. (*)


Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
Sumber : Malang TIMES


Top