Social Media

Share this page on:

Oknum Pegawai RSUD Kanjuruhan Terlibat Selingkuh, Kepergok Suami Setelah Berzina di Penginapan

01-12-2018 - 15:32
Hendra Bagus KW terlapor kasus perselingkuhan dan perzinahan, saat dimintai keterangan di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang, Kabupaten Malang (Foto : Istimewa)
Hendra Bagus KW terlapor kasus perselingkuhan dan perzinahan, saat dimintai keterangan di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang, Kabupaten Malang (Foto : Istimewa)

MALANGTIMES - Baru pindah dan mengabdi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan, Kepala Sub Bagian (Kasubag) Kepegawaian, Hendra Bagus KW warga asli Kota Madiun ini, sudah berulah. Lantaran sering berkolaborasi, membuat pria 35 tahun ini, menjalin cinta terlarang dengan bawahannya sendiri NH (inisial). 

Parahnya cinta lokasi itu, dilampiaskan keduanya dengan melakukan hubungan badan.

iklan

Dari pendalaman MalangTIMES, Hendra baru saja menjabat sebagai Kasubag Kepegawaian RSUD Kanjuruhan sejak empat bulan lalu. Berselang satu bulan kemudian dia lantas memendam rasa kepada salah satu bawahannya. Namun siapa sangka, perasaan tersebut ternyata juga dirasakan NH. Meski sama-sama sudah memiliki pasangan yang sah, namun keduanya tetap menjalin hubungan asmara, selama tiga bulan lamanya.

Puncaknya, 13 Oktober lalu, mereka sepakat untuk melampiaskan perasaannya dengan melakukan hubungan badan. Keduanya janjian untuk menginap di salah satu penginapan yang ada di daerah Kecamatan Kepanjen. Usai melakukan perzinahan yang terjadi pada siang hari ini, Hendra dan NH kembali ke tempat kerja, dengan mengendarai kendaraan sendiri-sendiri.

Kasus perselingkuhan yang melibatkan oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) ini, baru terungkap sekitar satu bulan pasca keduanya melakukan hubungan badan. Saat itu, suami NH yang merasa curiga, meminta keterangan istrinya atas dugaan perselingkuhan tersebut. Setelah dicerca beberapa pertanyaan NH akhirnya mengakui hubungan perselingkuhannya dengan Hendra. “Kasus ini dilaporkan ke polisi pada 14 November lalu,” terang Kanit UPPA Satreskrim Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana.

Berawal dari laporan tersebut, tim penyidik lantas memanggil Hendra untuk dimintai keterangan, Jumat (30/11/2018). Semula terlapor mengelak jika melakukan perselingkuhan dengan NH. Namun setelah ditunjukkan beberapa bukti, akhirnya Hendra mengakui perbuatan tersebut. Parahnya, hubungan perzinahan yang dilakuan itu terjadi saat istri terlapor sedang hamil. “Kami sudah menghimpun barang bukti berupa chat WhatsApp, keterangan dari pihak penginapan, dan kesaksian dari teman kerja mereka (Hendra dan NH). Dari bukti yang kami dapat, memang menjurus kepada perselingkuhan,” sambung Yulistiana saat ditemui diruangannya, Sabtu (1/12/2018).

Dari pendalaman penyidik, hubungan asmara antara keduanya dilakukan lantaran suka sama suka. Meski mengaku hanya sakali berhubungan badan, namun hingga saat ini polisi masih melakukan pendalaman lebih lanjut. Rencananya Senin (3/12/2018), pria yang selama ini berdomisili di wilayah Kecamatan Kepanjen ini, bakal dipanggil lagi guna dilakukan penyidikan. “Akibat perbuatannya, pelaku diancam dengan pasal 284 KUHP tentang perselingkuhan dan perzinahan, ancaman hukuman 9 bulan penjara,” tegas Yulistiana.

Sementara itu, Kabag Prehumsar (Kepala Bagian Perencanaan Rekamedik Evaluasi Pelaporan Humas dan Pemasaran) RSUD Kanjuruhan Suwarno, memilih untuk tidak terlalu berkomentar, saat ditanya terkait kasus yang menimpa Hendra dan NH. “Itu kan masalah pribadi, jadi saya tidak ingin terlalu berkomentar. Silahkan ditanyakan kepada kepolisian yang menangani kasus ini,” terang Suwarno.

Meski irit bicara, namun pihaknya tidak menampik jika selama ini Hendra dan NH memang memiliki kedekatan. “Ya saya sempat dengar hubungan kedekatan mereka, tapi terus terang saya tidak terlalu kenal dekat dengan Hendra. Dia kan baru pindah, jadi tidak terlalu kenal,” kelit Suwarno.

Ketika ditanyakan langkah kedepan yang bakal diambil pihak RSUD Kanjuruhan, Suwarno mengaku jika bakal mengikuti kebijakan dari pemerintah. “Kami ngikut saja arahan pimpinan seperti apa, biasanya bakal dipecat. Tapi tidak tahu lagi nanti instruksinya seperti apa,” pungkasnya.

 


Pewarta : Ashaq Lupito
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :


Top