Social Media

Share this page on:

Hakka, Akar Pendiri Singapura dan Republik Pertama di Nusantara

02-12-2018 - 09:07
Suasana kongsi orang-orang Hakka Tionghoa atau China yang menjadi Republik Lanfang. (Ist)
Suasana kongsi orang-orang Hakka Tionghoa atau China yang menjadi Republik Lanfang. (Ist)

MALANGTIMES - Etnis Hakka Tionghoa atau China merupakan komunitas yang menjadi akar menjelmanya Singapura, salah satu negara paling makmur di dunia dan melebihi saudara-saudara tuanya di kawasan Asia Tenggara. 

Keberadaan orang-orang Tionghoa/China dari etnis Hakka yang digambarkan sebagai para pekerja keras tersebut ternyata juga sempat menorehkan jejak panjang di Nusantara. Baik dalam pergulatan revolusi kemerdekaan maupun memperkenalkan konsep republik sebelum Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan dan menjadi sebuah negara.

iklan

Bingling Yuan dalam Chinese Democracies: A Study of the Kongsis of West Borneo 1776-1884 (2000:329) menuliskan, bagaimana etnis Hakka Tionghoa mendirikan republik yang pertama di Nusantara. Tepatnya di wilayah Kesultanan Pontianak dan Sambas di Kalimantan Barat pada tahun 1777. Berdirinya republik yang dinamakan Lanfang tersebut dimulai sejak adanya gelombang imigran Tionghoa atau China pada pertengahan abad 18 ke Kalimantan Barat. 

Tercatat  sampai tahun 1770, warga Tionghoa atau China di wilayah tersebut telah mencapai 20 ribu orang dan tergabung dalam 14 kelompok atau kongsi. Sebanyak 12 kelompok berada di wilayah Kesultanan Sambas. Sedangkan 2 kongsi lainnya ada di wilayah Kesultanan Mempawah.

Imigran China awalnya didatangkan oleh Kesultanan Mempawah dan Sambas pada tahun 1740-1750 dalam rangka  menambang emas yang banyak ditemukan di kawasan tersebut. Orang-orang China inilah yang dijadikan pekerja tambang emas oleh kedua kesultanan yang letaknya berjajar dalam satu garis pantai Selat Karimata tersebut. 

Kebutuhan tenaga penambang emas yang sangat banyak inilah yang membuat kaum imigran China semakin membengkak. Mereka pun membentuk kelompok atau kongsi dagang di wilayah pertambangan masing-masing. 

Kelompok ini diberi keleluasaan oleh kedua kesultanan yang mempekerjakannya. Baik dalam melanggengkan tradisi sampai pada pengangkatan ketua atau pemimpinnya. Mereka hanya meminta masing-masing kelompok menyetor 1 kilogram (kg) emas tiap bulan. 

Keleluasan ini pula yang menjadi bibit pembangkangan kaum imigran China tahun 1770 terhadap aturan setor emas kepada kesultanan. Mereka menolak untuk memberikan 1 kg emas dan hanya bersedia menyerahkan setengah kilogram. 

Pembangkangan tersebut yang membuat pecahnya peperangan yang menewaskan warga lokal dan sejumlah pejabat kesultanan dari Suku Dayak. Sultan Umar Aqamaddin II dari Sambas berang. Dikirimlah pasukan untuk memadamkan pemberontakan kaum pendatang tersebut. Perang terjadi selama 8 hari dan akhirnya dimenangkan oleh pasukan Sambas. 

La Ode dalam Politik Tiga Wajah (2013:105) menuliskan, setelah memadamkan pemberontakan, sultan Sambas ternyata tidak memberikan hukuman berat kepada para pendatang China tersebut. Mereka tetap diperbolehkan bekerja seperti biasa dengan syarat setoran emas tetap 1 kg setiap bulan.

Pemberontakan yang hanya sekitar sepekan lebih tersebut membuat orang-orang China sadar. Akhirnya dibentuklah aliansi dari 14 kongsi dengan nama Hee Soon pada 1777. Tujuannya untuk memperkuat persatuan sekaligus meminimalisasi terjadinya polemik antar-kongsi seperti yang pernah terjadi pada 1774. 

Koran tenpo dulu yang menulis tentang Republik Lanfang (Ist)

Hee Soon inilah yang menjadi embrio berdirinya Republik Lanfang yang digagas oleh Lo Fang Pak yang menjadi lresiden pertamanya melalui pemilihan umum. Republik pertama yang berdiri di Nusantara karena Republik Lanfang ini, selain memiliki presiden yang dipilih dalam pemilu, juga mempunyai undang-undang (UU) sendiri.  UU yang mengatur berbagai aspek kehidupan rakyatnya, dari tata negara, hukum, ekonomi, pendidikan, dan sektor-sektor penting lainnya. 

Republik Lanfang juga dilengkapi dengan dewan pemerintahan, pengadilan, penjara, bahkan pasukan bersenjata, seperti yang ditulis oleh La Ode dalam buku berjudul Etnis Cina Indonesia dalam Politik (2012:229).

Setelah 47 tahun berdiri dan tercatat punya 10 presiden yang dipilih lewat pemilu, Republik Lanfang yang menolak tunduk di ketiak Belanda diserbu dan jatuh pada tahun 1884. Presiden terakhirnya, Liu Ah Sin, tewas. Republik Lanfang mengalami kehancuran total dan warganya melarikan diri ke berbagai wilayah. Mereka melarikan diri ke Sumatera, Medan dan akhirnya hingga ke Singapura yang awalnya dikenal dengan nama Pu-Lo-Chung atau Pulau Ujung karena Singapura terletak di ujung selatan Semenanjung Malaya. 

Di Singapura inilah, pelarian orang-orang China dari etnis Hakka berdomisili, beranak pinak, dan melanjutkan pembangunan.  Salah satu keturunannya adalah mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew.

Sejarah Singapura, menurut tulisan Jean E Abshire, The History of Singapore (2011:19) didirikan oleh Sang Nila Utama, pangeran dari Kerajaan Sriwijaya, pada tahun 1299 di daerah yang dinamakan Tumasik. Pada awal abad ke-3, Singapura juga pernah dikunjungi seorang pengambara dari China bernama Fa-Hsien. 

Peperangan demi peperangan silih berganti di lokasi ini. Antara Kerajaan Sriwijaya dengan Kerajaan Chola (India), Majapahit dengan Kerajaan Ayutthaya dari Siam (Thailand) sampai pertempuran Kesultanan Johor dan Malaka dengan Portugis. 

Tahun 1613, Portugis membakar Tumasik sehingga tempat ini berubah menjadi sarang penyamun. Nama Tumasik pun berangsur pudar dan dilupakan, seperti yang ditulis oleh Victor Pursell dalam buku Orang-orang Cina di Tanah Melayu (1997:76).

Tahun 1819, Tumasik yang dilupakan didatangi orang-orang dari East Indian Company (EIC) dari Britania (Inggris) yang dipimpin Thomas Stamford Raffles. Saat Raffles tiba, Tumasik masih berpenghuni. Satu keluarga tumenggung dari Johor bersama 150 nelayan yang terdiri dari 120 orang Melayu dan 30 orang China.

 Di rentang waktu itulah, wilayah yang kerap dilanda peperangan dan tahun 1965 itu resmi menjadi negara yang merdeka. Menjadi tempat pelarian orang-orang Tionghoa atau China yang cerai berai karena gempuran Belanda. 

Keberadaan orang China serta eksodus etnik Hakka dari Republik Langfan terlihat dari perdana menteri kedua Singapura bernama Lim Yew Hock yang menggantikan tokoh pro-kemerdekaan, David Saul Marshall. (*)

 


Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher :


Top