Social Media

Share this page on:

Miris, Married By Accident di Bawah Umur Dominasi Pengajuan Dispensasi Nikah di Pengadilan

05-12-2018 - 17:20
Ilustrasi MBA yang membuat remaja belum berusia nikah sesuai UU mengajukan dispensasi (Ist)
Ilustrasi MBA yang membuat remaja belum berusia nikah sesuai UU mengajukan dispensasi (Ist)

MALANGTIMES - Miris melihat data yang ada di Pengadilan Agama (PA) Negeri Malang di tahun 2018 ini. 

Pasalnya, sampai bulan Oktober 2018 lalu, sudah tercatat adanya pengajuan dispensasi nikah atau pengajuan pernikahan dini di PA Negeri Malang. 

iklan

Tidak tanggung-tanggung pengajuan dispensasi nikah tersebut mencapai 317 remaja di Kabupaten Malang berpotensi melampaui angka kasus serupa di tahun 2017 lalu. 

Lebih mirisnya, pengajuan dispensasi nikah yang secara sederhana merupakan permohoan adanya pernikahan di luar syarat usia dalam Undang-Undang (UU) Perkawinan Nomor 1 tahun 1974. 

Yakni batas minimal usia pernikahan untuk perempuan 16 tahun dan laki-laki 18 tahun.

Dilatarbelakangi adanya married by accident (MBA) seperti yang disampaikan oleh Lilik Muliana Ketua PA Negeri Malang melalui Wakil Ketua Supadi. 

"Didominasi karena kecelakaan (MBA) pengajuan dispensasi nikah ke kita. Selain faktor lain seperti ekonomi maupun masih adanya kebiasaan menikahkan anak yang belum berumur sesuai aturan nikah," kata Supadi yang mewakili Ketua PA Negeri Malang,  Rabu (05/12/2018). 

Tentunya data tersebut,  membuat kita terhenyak. Dimana Kabupaten Malang sebagai kota religi masih menyisakan kasus-kasus yang melanda para remaja di bawah umur dalam melakukan hubungan seksual layaknya suami istri. 

Sehingga membuat pihak keluarga masing-masing anak hanya punya satu jalan,  yaitu mengajukan dispensasi nikah ke PA Negeri Malang. 

Persoalan pernikahan dini serupa mengulang cerita setiap tahunnya. Di tahun 2017 lalu, Pemerintah Kabupaten (pemkab) Malang yang gencar melakukan pengendalian pernikahan dini melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), Dinas Kesehatan (Dinkes) dan lainnya. 

Menemukan kasus pernikahan dini di Kabupaten Malang sebesar 35,65 persen atau 4.599 orang dengan usia istri dibawah 20 tahun serta tersebar di 33 kecamatan yang ada di Kabupaten Malang. 
Ditopang data tahun 2018 dimana pengajuan dispensasi nikah didominasi para remaja di bawah umur dengan faktor MBA. 

Semakin memperlihatkan ada sesuatu yang 'salah' dalam pendekatan-pendekatan program pemerintah maupun keterlibatan unsur masyarakat. 

Ada pergeseran motif terjadinya pernikahan dini di masyarakat Kabupaten Malang. 

Dari persoalan budaya sampai ekonomi ke arah adanya pergaulan bebas. 

Hal ini terlihat dari sebaran kasus pernikahan dini yang mematahkan asumsi lama mengenai wilayah sebaran kasus adanya di pelosok desa.

Dari tahun 2017, urutan terbanyak kasus pernikahan dini berada di wilayah Wajak, Pakis dan Kepanjen. 

Pelibatan tokoh agama dan masyarakat menjadi bagian tidak terpisahkan dalam meminimalisir adanya pernikahan dini yang secara fisik dan psikologis sangat berbahaya bagi keberlanjutan pernikahan remaja di bawah umur. 

Seperti yang disampaikan Camat Kepanjen Abai Saleh.

"Ini tentunya warning bagi kita semua. Mari bersama-sama kita tekan angka pernikahan dini ini melalui berbagai kegiatan positif dengan melibatkan langsung para remaja. Apalagi yang nikah dini karena kecelakaan akibat pergaulan bebas. Peran tokoh agama dan masyarakat tentu akan sangat berperan dalam masalah ini," ujar Abai.

Pelibatan tomas dan toga dalam permasalahan pernikahan dini di Kepanjen diarahkan untuk memberikan pemahaman dari aspek agama dan sosial terhadap remaja. 

Hal ini didasarkan pernikahan dini di Kepanjen sudah tidak lagi dipicu oleh kondisi ekonomi dan kebiasaan yang hidup lama di masyarakat.

Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) menyatakan, ada satu dari empat perempuan berumur 15-19 tahun yang sudah memutuskan menikah. 

Dalam rentang usia yang sama, ada satu dari sepuluh perempuan yang sudah hamil.

Survei tersebut memperlihatkan betapa kasus pernikahan dini dan seks bebas menjadi ancaman bagi generasi muda sekarang.  

Padahal,  perempuan yang menikah dan hamil di usia muda terancam berbagai masalah, mulai gangguan fisik, psikologis, hingga kekerasan dalam rumah tangga. 

 


Pewarta : Dede Nana
Editor : Heryanto
Publisher :


Top