Social Media

Share this page on:

Disangka Vitamin, Kardus Misterius yang Ditemukan di Bandara Abdul Rachman Saleh Isinya Mencengangkan

07-12-2018 - 12:56
Sebanyak 50 ribu butir obat-obatan terlarang saat diamankan petugas di Bandara Abdul Rachman Saleh, Kabupaten Malang (Foto : Istimewa)
Sebanyak 50 ribu butir obat-obatan terlarang saat diamankan petugas di Bandara Abdul Rachman Saleh, Kabupaten Malang (Foto : Istimewa)

MALANGTIMES - Narkoba musuh negara. Iya, saat ini pemerintah memang sedang gencar-gencarnya menabuh genderang perang melawan peredaran narkotika. Berbagai elemen dilibatkan. Bukan menciut. Para bandar justru kian bringas dalam mengedarkan narkoba.
Bahkan sistim keamanan bandara yang kian cangih, juga masih bisa disiasati oleh pelaku bisnis barang haram tersebut.

Terbukti, sebanyak 50 ribu butir obat-obatan terlarang, nyaris saja beredar di wilayah Malang, Kamis (6/12/2018). Narkotika yang diketahui masuk dalam jenis pil double L itu, ditemukan petugas pangkalan udara (Lanud) Abdul Rachman Saleh, di dalam kardus berwarna coklat.

iklan

Dijelaskan lebih lanjut, Kepala Divisi Operasi (Kadisop) Lanud Abdul Rachman Saleh Malang Kolonel Reza Sastranegara mengatakan, jika semula petugas menemukan barang mencurigakan berupa pil, yang berceceran di cargo penumpang. Merasa ada yang janggal, temuan itu lantas dilaporkan dan ditindaklanjuti oleh satuan intelijen. “Dari laporan staf yang ada di lapangan, menemukan ada satu bungkus pil yang rusak, bahkan kondisi kardus juga ada yang sobek,” terang Reza.

Reza menambahkan, jika dilihat dari kondisinya, kardus yang dikemas dengan lakban transparan itu, di salah satu sisinya tertulis makanan burung. Sedangkan plastik yang berisi pil, diberi keterangan dengan nama samaran vitamin. “Diindikasi kuat jika obat yang berceceran tersebut, merupakan obat-obatan terlarang,” kata Reza di hadapan awak media.

Mengetahui hal ini, petugas lantas melakukan pemeriksaan x-ray, di semua barang yang masuk. Hasilnya, ada salah satu kardus berwarna coklat, yang berisi sekitar 50 plastik pil berwarna putih yang berlabel vitamin B1. Temuan tersebut, lantas diteruskan ke satuan polisi militer. Ternyata benar, obat-obatan yang berada dalam kardus misterius, merupakan jenis obat terlarang. “Ada 50 bungkus plastik, dimana setiap kemasan berisi sedikitnya 1.000 butir pil. Total ada 50 ribu butir obat-obatan terlarang yang diamankan,” sambung Reza.

Dari informasi yang dihimpun petugas, paket yang dikirim menggunakan jasa ekspedisi tersebut, diterbangkan menggunakan maskapai Citilink dengan nomor penerbangan QG160. Pesawat diberangkatkan dari rute Halim Perdanakusuma Jakarta itu, menuju Bandara Abdul Rachman Saleh Malang.

Dari informasi yang dihimpun MalangTIMES, 50 ribu butir obat-obatan terlarang ini, memang sengaja dikirim dari Jakarta menunju Malang. Bahkan ada resi penerimaan dari barang kiriman. Rencananya, si penerima bakal mengambil paketan tersebut. Namun, petugas memilih enggan untuk menyampaikan secara pasti, dimana alamat yang bakal dituju. Sebab, dikhawatirkan bakal menghambat proses penyelidikan.

Saat ini, berbagai instansi seperti Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota dan Kabupaten Malang, serta kepolisian turut dilibatkan, guna mengungkap kasus peredaran narkotika yang ditemukan di bandara. “Ini memang tanggungjawab angkatan udara apabila ada indikasi penyelundupan ilegal, namun sinergitas berbagai elemen juga diperlukan guna memerangi peredaran narkoba,” sambung Reza.

Selain berkolaborasi dengan instansi yang ada di Malang, Reza juga menegaskan jika pihaknya bakal berkoordinasi dengan maskapai Cilitink, dan Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. “Kejadian semacam ini baru pertama kali terjadi, maka kami berusaha agar kedepan tidak akan terulang lagi,” tegas Reza.

Mengingat petugas dan sistim keamanan yang berada di bandara terbilang canggih, tentunya mengundang tanda tanya, kenapa bisa obat terlarang masih bisa diselundupkan. Ketika ditanya apakah ada peran orang dalam, Reza masih belum bisa memastikan. “Masih dugaan, akan diproses lebih lanjut. Terlalu dini untuk memastikan dan menyimpulkan jika orang dalam terlibat,” pungkasnya.


Pewarta : Ashaq Lupito
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :


Top