Social Media

Share this page on:

Kasus Demam Berdarah Meningkat, Dinas Kesehatan Kembali Disorot

10-12-2018 - 18:55
Ilustrasi DBD (Ist)
Ilustrasi DBD (Ist)

MALANGTIMES - Kasus demam berdarah dengue atau DBD mengalami peningkatan di tahun 2018 dibandingkan dengan tahun 2017 lalu. Kondisi tersebut membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang kembali mendapat sorotan banyak kalangan. 

Setelah kasus data stunting yang tiba-tiba membengkak di tahun ini, sampai pada beberapa urusan hukum yang menimpa para petugas Dinkes Kabupaten Malang, kini demam berdarah menyerang masyarakat Kabupaten Malang. Dengan jumlah kasus 681 sampai awal bulan Desember 2018. Kasus DBD masih dimungkinkan terjadi dengan mulai intensnya hujan yang melanda wilayah Kabupaten Malang. 

Per Desember 2018, nyamuk penyebab DBD telah merenggut 3 nyawa. Dari total warga yang terkena DBD sejumlah 681 kasus. 
Dari data kasus DBD, jumlah warga terserang nyamuk aides aegypti meningkat cukup tinggi. Yakni sebanyak 230 kasus dari tahun 2017. Tahun 2017 kasus DBD sebanyak 451 kasus dengan meninggal dunia sebanyak 7 orang. 

Hal tersebut dibenarkan oleh Plt Kepala Dinkes Kabupaten Malang dr Ratih Maharani. "Betul kasus DBD tahun ini meningkat dari tahun lalu, " katanya. 
Peningkatan kasus DBD membuat banyak kalangan kembali menyoroti kinerja para petugas kesehatan Dinkes Kabupaten Malang. Bahkan, beberapa warga pun ikut berbicara dengan kondisi tersebut. 
Zulfikar warga Kepanjen, menyatakan dirinya yang biasanya membaca berbagai informasi kesehatan di Kabupaten Malang melalui berbagai media, merasa heran. 

"Kok tahun ini semakin banyak kasus kesehatan. Padahal di tahun lalu tidak begitu mencuat kasus-kasus tersebut. Ini DBD juga katanya naik. Sebenarnya ada apa dengan Dinkes saat ini, " tanya Zulfikar kepada MalangTIMES, Senin (10/12/2018). 

Pertanyaan senada dilontarkan pihak DPRD Kabupaten Malang. Walau pun terkait kasus lainnya di Dinkes Kabupaten Malang. Baik tentang angka stunting maupun kinerja di Dinkes Kabupaten Malang. 
Kusmantoro Widodo Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Malang, bahkan dibuat kebingungan dengan berbagai data dari Dinkes. "Data yang valid tentang kasus-kasus kesehatan dengan peningkatan tinggi dari tahun lalu ini yang mana sebenarnya? Ini perlu ada evaluasi menyeluruh dengan kondisi tersebut," ujarnya. 

Berbagai pertanyaan dan keheranan khalayak banyak ini, khususnya mengenai peningkatan jumlah pasien DBD, dijawab Kadinkes Kabupaten Malang. Dirinya menyampaikan, bahwa pihaknya sejak bulan Agustus lalu melakukan berbagai pembaruan sistem laporan. 

"Dari perbaruan sistem tersebut laporan tentang kasus-kasus kesehatan, seperti DBD dari tingkat puskesmas maupun rumah sakit semakin update kepada kami," urai Ratih. 
Dirinya juga menyampaikan, untuk persoalan DBD, pihaknya telah juga menyiapkan berbagai strategi untuk menangkal semakin banyaknya jatuh korban nyamuk aides aegypti. Salah satunya adalah 
program satu rumah satu jumantik. 

Dari data yang ada program tersebut ternyata juga belum berjalan secara menyeluruh di berbagai wilayah. Tercatat program satu rumah satu jumantik baru berjalan secara maksimal di wilayah Turen. 
Ditunjang dengan budaya dalam masyarakat yang masih relatif rendah. Membuat berbagai persoalan kesehatan menjadi problem besar di Kabupaten Malang. Peran besar dan segala prestasi di bidang kesehatan pun diuji dalam berbagai persoalan yang 'tiba-tiba' muncul ke permukaan. 

Baik mengenai bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat sampai pada kerja optimal para petugas kesehatan yang jumlahnya terbilang banyak dan berada sampai tingkat desa. 
Ratih pun optimis di tahun depan dengan berbagai persoalan yang membuat Dinkes menjadi sorotan dalam beberapa bulan belakangan ini, tidak lagi terulang. "Kita optimis tidak akan terulang tahun depan," pungkasnya. 

 


Pewarta : Dede Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :


Top