Social Media

Share this page on:

Berawal Hanya Ada Dua Orang Pelatih, PB Brawijaya Yunior Telurkan Atlet Juara Sirnas 2013

30-12-2018 - 22:15
Tim pelatih dan atlet PB Brawijaya Yunior ketika foto bersama di GOR Kanaya (PB Brawijaya Yunior for MalangTIMES)
Tim pelatih dan atlet PB Brawijaya Yunior ketika foto bersama di GOR Kanaya (PB Brawijaya Yunior for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Mendirikan sebuah klub bulutangkis tidak semudah yang dibayangkan, apalagi dengan bayang-bayang mencetak atlet berprestasi. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi PB Brawijaya Yunior yang didirikan Feronny Ariefandi Mahendra, karena sangat yakin jika atlet binaannya bisa menjadi andalan Kota Malang bahkan Timnas Indonesia.

Berdiri pada Januari 2008 lalu, Feronny Ariefandi Mahendra yang awal mulanya mempunyai gagasan untuk membina pemain, akhirnya dibantu rekannya yang juga sesama lulusan Universitas Brawijaya.

Tak hanya sekedar mendirikan, Ronny sapaan akrab Feronny Ariefandi Mahendra dengan rekannya yang bernama Ananta Pramudya bertekad menularkan ilmunya untuk 15 atletnya. "Awal itu saya dan teman saya, hanya berdua yakin bisa menularkan ilmu ke atlet," ucapnya.

Awal mendirikan, Ronny menggunakan dana pribadi untuk membangun klub bulutangkis itu. Ia juga mengandalkan dana iuran per bulan dari orang tua wali atlet. "Ya pelan-pelan mendirikan dengan mengandalkan dana iuran," katanya.

Di samping itu, Ronny bersyukur bisa dibantu fasilitas gedung yang digunakan sebagai venue latihan, yakni di GOR Kanaya, Jalan Werkudoro, Polehan. "Untung ada bu Siti Masyitah Mujayaning yang membantu dengan menggratiskan tempat latihan, kalau misal harus bayar ya jelas kami tidak mampu," ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, PB Brawijaya Yunior mempunyai nama dan banyak atlet yang mendaftar. "Sekarang kami mempunyai 43 atlet, dengan dibantu lima pelatih lain," katanya. 

Lima pelatih yang membantu Ronny adalah Rixy Sirhall, Mahmudah Permata Sari, Candranata, Arengga Juliansyah dan Gantara. "Pelatih yang membantu saya itu rata-rata masih muda semua, beberapa juga jebolan anak didik saya, jadi semua satu visi dan misi," imbuhnya.

Seperti pengakuan Ronny, atlet berprestasi yang dimiliki adalah Arih Cahyaning Ananda yang meraih juara ketiga Ganda Pemula Putri di Sirnas Bali 2013 lalu. "Kalau untuk yang nasional Arih yang berprestasi, tapi sekarang dia kuliah di ITS, sehingga tidak fokus lagi latihan di klub, dia sekarang fokus latihan di kampusnya," sebutnya.

Saat disinggung kendala membina atletnya, Ronny mengaku tidak ada kesulitan yang berarti. Namun hanya pendanaan ketika mengikuti kejuaraan nasional yang cukup membuatnya berat. "Jadi solusinya, jika ada atlet berprestasi yang ikut kejuaraan nasional, kami buat proposal dan kami serahkan ke PBSI agar mendapat bantuan dana, tapi untuk atlet yang mengikuti Kejurkot atau Kejurprov itu kami dapat bantuan dari orang tua wali," paparnya.

Di tengah kesulitan dana yang mendera, di tahun 2016 PB Brawijaya Yunior sempat mendapat sponsor dari klub bulutangkis FIFA dari Sidoarjo. Namun kerjasama tersebut berakhir pada Juli 2018 lalu. "Sempat kami mendapat bantuan dari sponsor, itu berupa fresh money dan itu cukup membantu, tapi sekarang kami mandiri lagi," akunya.

PB Brawijaya Yunior sendiri kini membagi tiga kelas untuk atlet yang ingin memperdalam ilmu bulutangkis. Dan Ronny masih membuka lebar klubnya untuk menerima orang tua yang anaknya ingin belajar bulutangkis.

Dan per kelas ada iuran perbulan. Untuk dasar sejumlah Rp. 150.000, pembinaan sejumlah Rp. 200.000 dan prestasi sejumlah Rp. 250.000. Sementara itu, biaya pendaftaran sendiri hanya Rp. 100.000.

 


Pewarta : Hendra Saputra
Editor : A Yahya
Publisher :


Top