Social Media

Share this page on:

Belajar dari Kemacetan

19-06-2015 - 11:19
Heri Kiswanto
Heri Kiswanto

Oleh : Heri Kiswanto*

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah, kita tak hanya dituntut tekun beribadah dan sholat saja. Namun, belajar bersabar, salah satu bentuk ketaatan patut dijaga sebaik-baiknya.

Menghadapi kemacetan di Malang dan sekitarnya (Malang Raya), menuntut kita menguasai emosi. Sesak dan padat kendaraan, baik roda dua ataupun roda empat di sepanjang jalan yang kita lewati, melatih kesadaraan menjaga kepeduliaan antara sesama pengguna jalan.

Aktifitas dan kepadatan arus lalu lintas di ‘Kota Bunga’ tersebut, seakan memaksa kita tetap belajar dan belajar mengatasinya tanpa emosional. Mengingat, di bulan suci ini mesti banyak hikmah yang bisa dipetik dari kejadian sehari-hari. Termasuk, saling menghargai antara pengendara agar tidak saling mendahului dan melanggar rambu-rambu.

Seperti halnya menu utama, kemacetan diselangi hiruk-pikuk perkotaan, yang membuat kita belajar mengenai tata ruang dan pengelolaan lingkungan sehat dan tidak berpolusi. Sebab, kenyamanan dan keamanan menjadi hak pejalan kaki dan pengguna kendaraan setiap saat.

Intoleransi sebagai pengendara menyadarkan setiap pengendara harus tertib berlalu lintas. Tanpa mengesampingkan keselamatan diri sendiri dan orang lain, terutama bagi pengendara yang kurang patuh rambu-rambu, bahkan menyepelekan penyeberang dan pedagang di pinggir jalan.

Kondisi ini sepatutnya menjadi pembelajaran bagi kita semua, agar terus meningkatkan rasa toleran kita sebagai pengguna kendaraan bermotor yang dirasa menjadi contoh pelopor keselamatan dan kenyamanan berkendara di jalan raya, khususnya daerah Malang Raya.


Pewarta : Rochmat Shobirin
Editor :
Publisher :

TAG'S

Top