Social Media

Share this page on:

Seret Otak Pelaku Pembakar Hutan

05-11-2015 - 11:42
Forum Penanggulangan Resiko Bencana (FPRB), Jawa Timur. Foto: bayhaqi/malangtimes
Forum Penanggulangan Resiko Bencana (FPRB), Jawa Timur. Foto: bayhaqi/malangtimes

Kabut asap di Kalimantan dan Sumatera secara perlahan sudah menipis. Sejak hujan turun, asap yang semula menebal luruh. Penduduk di area asap mulai beraktifitas normal kembali.

Namun, kegalauan masih menyesakkan bagi Syaiful Arifin, pria muda, asal Pasuruan, yang turut sibuk selama bencana asap berlangsung. “Saya sibuk bersama teman-teman relawan, melakukan kegiatan teknis agar korban kabut asap bisa dibantu maksimal”, ujarnya.

iklan

Kemudian ia mengungkapkan bagaimana selama kabut menebal, ia berbagi tugas dengan banyak komponen. Semisal membagi masker yang jumlahnya jutaan lembar. Juga memikirkan bagaimana teknis evakuasi, jika memang pada saat genting upaya itu dilakukan. Rekan-rekan relawannya cukup banyak, cukup terlatih. Mereka sudah terbiasa membantu korban bencana.

“Tetapi melatih mental tetap berpikir sehat saat bencana terjadi, itu harus terus dilatih”, jelas Ayah berputra dua, yang kini mendapat amanah menjadi, Sekretaris Jenderal, Pelaksana Harian, Forum Penanggulangan Resiko Bencana Provinsi Jawa Timur.

Dari serangkaian peristiwa bencana, tsunami Aceh,letusan gunung Merapi, hingga gunung Kelud, disadarinya, sebagi keniscayaan. Akan tetapi peristiwa kabut asap hingga tiga bulan, sebuah bencana yang disengaja. Ada tindakan kejahatan kejahatan bermotif bisnis di baliknya, begitu ia menduga.

“Bencana kabut asap, bukan bencana yang lumrah. Kejadiannya juga berulang setiap tahun. Kemarin paling lama dan mencekam. Harusnya, Presiden tidak cuma menyebut bencana nasional. Tapi segera perintah tangkap, otak pelaku peristiwa yang memberi racun bagi mahluk hidup di sekitarnya”, dengan nada sedikit geram aktifis FPB NU ini melontarkan pendapat.  

Sedangkan, dalam kaitan kajian terpadu,  Forum Penanggulangan Resiko Bencana (FPRB), Jawa Timur mengeluarkan rekomendasi :

1.Usut dan seret ke meja hijau para pelaku pembakaran lahan dan bila berlu cabut ijin operasi

2. Evaluasi aturan daerah tentang pembakaran lahan bila perlu cabut ijinnya

3. Reklamasi hutan, ekosistemnya dan tata kelola hutan

4. Peningkatan kapasitas masyarakat terhadap bahaya kabut asap, dampak dan kerugian yang ditimbulkan

Harapan besarnya, rekomendasi FPRB ini, menjadi perhatian bersama. Terutama pemilik kebijakan, di negeri berselimut hutan dan rawan bencana seperti Indonesia.(*)


Pewarta : Bayhaqi Kadmi
Editor :
Publisher : Rochmat Shobirin

Top